Jendela Sastra

Oh Ibu,, Cintamu Hanya Seujung Kuku [1]

Sayyida nafisa maryam, itulah namaku. Dibesarkan dilingkungan pondok, dengan segala peraturan yang mengikat. Kedua orang tuaku bukanlah bagian dari pengurus pondok, ataupun orang penting dipondok, tetapi cukup dekat dengan orang-orang yang ada dipondok. Sehingga mau tidak mau, aku dibesarkan dengan cara dan realita pondok. Cukup menyiksa untuku. Dan cukup menghambat impian besar dalam hidupku. “Aku benci dengan cara ibu dan bapak membesarkanku. aku benci, titik!”. jeritku dalam hati. Sambil menghadap cermin besar yang ada di kamar mungilku, aku terus menatap wajahku lekat lekat. Tidak ada sesuatu yang disebut cantik dalam bagian itu. Semua terlihat biasa, ya, terlalu biasa. Tapi ALLAH, aku yang biasa ini punya mimpi. Mimpi yang sangat besar.

Dialog antara pilihan hidupku dan pilihan ibu bapak untuk masa depanku terus berkecamuk dalam pikiran. Ku pandangi lagi wajahku lekat, ada segurat mata ibu dimataku, alis yang mirip dengan ibu, hidung, dan sedikit nuansa bapak dalam wajahku. Oh ALLAH, betapa mereka ada dalam jiwa dan tubuhku nyata. Apa aku harus mengikuti kemauan mereka, atau aku harus berkutat dengan inginku, aku ingin sekolah. Meraih mimpiku, meraih semua hal yang sudah tertanam dalam benakku, menjadi seorang dokter.

Besok adalah pengumuman kelulusan, dan itu adalah langkah awal untuku meraih masa depan. Namun, saat yang paling mendebarkan justru diwarnai dengan kericuhan. Sudah dua hari ini, aku tidak bertegur sapa dengan ibu dan bapak. Mereka tidak suka atas pilihanku. Mereka ingin aku melanjutkan ke pondok setelah aku lulus sekolah. Belajar ilmu agama lebih banyak, mengenal tauhid lebih dalam, lebih mengena dalam hati.

“bu, aku pengen sekolah lagi” pintaku dengan nada yang datar dan tanpa ekspresi. Tanpa sedikitpun aku menatap kedua mata ibu. Aku tahu, ibu tidak akan menjawab inginku, bahkan jikapun menjawa,b ibu akan menjawab dengan kata tidak. Ibu masih asik dengan setumpuk baju yang dilipatnya, dan tanpa ekspresi pula ibu menjawab dengan datar “tidak usah, lanjutin ke pondok saja, itu lebih baik untukmu”. Tanpa sedikitpun ibu melihat wajahku. Ya, aku sudah tahu bahwa ibu akan menjawab seperti itu, tapi mengapa terasa sakit dengan jawaban ibu yang ini. Aku memandang ibu, dan meraih tangannya yang masih memegang baju-baju yang dilipatnya dengan seksama. “tapi bu, kalau saja nilai ku bagus, masa aku nggak menlajutkan sekolah, kan sayang. Aku bisa lho bu masuk k sekolah favorit di kota”, pintaku lagi dengan sedikit nada memelas. Tanpa basa basi sedikitpun ibu langsung merapihkan baju-baju yang masih tersisa, dan berlalu begitu saja tanpa menghiraukan inginku. Tanganku langsung dilepasnya. Aku hanya bisa terdiam, dan bangkit meninggalkan ruang Tv. Aku membanting pintu kamar sekeras kerasnya, agar semua orang tahu, aku benci dengan keadaan ini.

Air mata tak bisa kubendung lagi. Tanpa dimintapun, buliran lembut jatuh dari pelupuk mataku dnegan deras. Besok adalah kesempatan terakhir untuk merayu ibu, akan kupersembahkan yang terbaik untuk ibu, dan membuktikan bahwa aku bisa meraih mimpi mimpiku.

Surat pengumuman kelulusan tiba hari ini, langsung dikirim lewat pos, untuk disampaikan ke rumah murid masing-masing. Dari pagi buta, aku duduk d depan toko kelontong bapak yang berada didepan rumah. Suasana masih sepi, seperti pagi-pagi biasanya. Hanya beberapa mobil dan motor yang terlihat melewati jalan. Setengah jam lebih aku menunggu didepan toko, dan alhmdulillah Pak Pos datang juga. Aku berlari kecil menuju Pak Pos yang menggunakan sepeda using mulai berbelok kearah rumahku.”pak, ada surat pengumumannya hari ini kan pak? buat aku pak?” Sambil berteriak kegirangan dengan wajah yang sumringah, aku terus mencerca pak pos dengan pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu ku ucapkan. “ iya neng ada, ini mau bapak kasih”. Dengan  suara yang berat, dan kening yang sedikit berkerut karena termakan usia, namun senyum bapak pos selalu mengembang, seperti pembawa berita bahagia kepada semua orang, entah isi surat itu kesedihan ataukah kebahagian. Dia selalu tersenyum, memberikan surat surat kepada penduduk desa, termasuk aku. “makasih ya pak, semoga isinya membahagiakan, aminn” sahutku sambil tersenyum. Tidak sabar aku ingin segera membuka amplop putih yang bertuliskan namaku didepannya. Semoga kabar bahagia untuku akan aku terima hari ini ya ALLAH, amin.. pintaku dalam hati. ”baca dengan bismillah neng pas bukanya, biar hasilnya barokah” pak pos bersahut padaku, sambil berlalu mengayuh sepedahnya untuk mengantar surat2 kepada yang lainnya. “iya pak, pastinya” aku menjawabnya tanpa melihat bapak pos pergi, aku masih mendekap surat itu dalam dadaku. Semakin berdegup kencang, tidak sabar ingin meloncat dan emmebuka isi ampliopnya.

Aku langsung berlari kekamar, dan membuka isi amplop itu. Alhmdulillah, aku mendapat nilai yang memuaskan. Aku bisa masuk sekolah favorit impianku. Sambil ku genggam surat yang baru saja ku terima, aku berlali kedapur, menuju ibu yang sedang memasak. Langsung aku peluk ibu tanpa berpikir panjang. Dan berteriak “ibu,,aku lulus, nilaiku bagus bu,,, aku bisa masuk sekolah terbaik di kota ini,, Alhamdulillah bu”. Ibu yang sedang asik memasak merasa kaget dipeluk olehku tiba-tiba. Dan segera melepaskan pelukanku. ”kamu ini kenapa? nggak lihat apa ibu lagi masak?kan ngasih taunya bisa nanti setelah ibu selesai masak”, tangan yang satunya masih asik memegang penggorengan, dan yang satunya melepaskan pelukannku. Terlihat tidak ada kebahagiaan dalam wajah ibu mendengar kelulusanku. Tidak ada sedikitpun kesenangan ibu mendengarkan beritaku. Oh ibu, anakmu ini telah berhasil selangkah, apa ibu tidak senang mendengar beritaku bu? Bisikkku dalam hati. Seketika itu juga wajahku berubah merah. Merah karena kesal sama ibu. “iya bu, maaf” sambil melepaskan pelukanku, aku menjauh dan duduk di kursi melihat ibu memask hingga selesai.

“Kamu bener ingin sekolah?” ibu membuka pembicaraan, sambil menyiapakan sarapan dimeja. Dengan hati yang senang, aku langsung meloncat, memeluk ibu dengan erat, ku jawab dengan penuh bahagia “iya bu, ingin sekali, aku ingin menjadi dokter bu”. Aku tidak melepas pelukanku pada ibu sedikitpun, sekalipun ibu sedang menyiapkan makanan, dan terlihat kesusahan menyiapakan semunya, aku tidak peduli dengan semua itu. “lepasin dulu pelukannya, ibu nggak bisa bergerak” sambil memaksa melepas tanganku yang melingkar diperut ibu. “hehe,,iya ibu sayang,” aku segera melepaskan pelukan  itu. “kamu boleh sekolah, tapi dengan sayart? Bagimana?apa kamu sanggup?”. Dengan penuh keyakinan,,, aku menjawab ”sanggup bu, apapun syarat yang ibu berikan, akan aku ikuti” tanpa berpikir panjang, aku menjawab permintaan ibu. Rasa bahagia membuncah dalam pikiranku dan hatiku. Sambil menyelesaikan sarpan yang akan dihidangkan, ibu melanjutkan pembicaraannya denganku. “ya ibu punya syarat, pertama, jika ga masuk sekolah favorit, kamu langsung ke pondok, yang kedua, jangan mengukiti kegiatan terlalu banyak di sekolah, terlalu menyita waktu mu mengaji dimadrash. Bagaimana? sanggup?.” hening, aku tidak bisa langsung mengiyakan apa yang ibu minta barusan. Hanya bisa berfikir, Ya ALLAh, jika ini memang jalanku,, aku akan turuti apapun yang ibu inginkan. Dan dengan nada yang bergetar, aku katakana “iya” pada ibu. Sarapan pagi ini, kulalui denga keheninga, bahagia bercampur bimbang. Aku mencintai duniaku, tapi aku juga mencintai ibu. Terkadang memilih adalah salah satu bagian dari hidup yang meyakitkan.

Semua itu terjadi bertahun tahun yang llau saat aku ingin melanjutkan sekolah ke SMP favorit di kota, dan ALHamdulillah aku bisa melalui semua itu. Hingga aku masuk SMA favorit, selalu dengan kejadian yang sama pada awalnya, namun, ALLAh selalu memberikan jalan yang indah, yang aku harap dalam hidupku. Dan yang terpenting, aku bisa memberikan yang terbaik untuk ibu. Membuktikan bahwa tidak ada kesia-siaan atas kepercayaan yang ibu berikan. Dan sekarang, aku berada disebuah persimpangan. Kembali dihadapakan pada pilihan hidup yang sulit.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *