Jendela Sastra

Oh Ibu,, Cintamu Hanya Seujung Kuku [2]

Oh ALLAH, selalu aku berada dijalan yang sama, dengan waktu dan keadaan yang beda, namun tetap pada tujuan yang sama.

Dan kejadian itu berlangsung terus menerus, hingga aku masuk SMA. Selalu melewati jalan yang sama. Dan aku bisa melewati dengan keringanan yang ALLAh berikan. Aku selalu diberi jalan untuk meraih apa yang ada dalam imaji dan harapanku.

***

Hari ini langit secerah biasanya, biru cemerlang, dengan seidikit awan tipis menghiasai, seperti tabuaran kapas yang sengaja di tempatkan oleh sang Pencipta langit dan bumi. Aku termenung sendiri dikamar, menatap Koran yang baru saja aku beli. Pagi-pagi sekali aku sudah pergi ke loker Koran untuk mencari koran pengumuman kelulusan SPMB, dan Alhamdulillah, pagi ini aku mendapatkannya. Namaku tertulis dengan jelas dikoran itu, Sayyida nafisa maryam, nomor urut 9897864 fakultas kedokteran universitas Sriwijaya Palembang. Ya, namaku tertulis disitu, dengan jelas. Perasaanku terasa campur aduk bagai gado-gado. Senang, sedih, bimbang, takut, semua menjadi satu. Lebih dari satu jam aku terdiam dikamar, memikirkan apa yang akan aku katakan pada ibu. Aku yakin, ibu tidak akan mengizinkan aku pergi kesana. Belum pernah aku sejauh itu dari ibu, dan aku yakin, ibu tidak akan mengizinkan aku pergi. Mungkin ibu akan memilih lebih baik aku mondok di daerah yang tidak terlalu jauh, dan menunggu jodohku tiba, daripada harus mengijinkan aku pergi jauh untuk kuliah. Semua bergumul menjadi satu dalam pikiranku, hingga suara panggilan dari luar menyadarkanku dari dunia khayalanku. “fisaaa.. sini!!” Ibu memanggilku, seperti biasa, pagi adalah tugas ku mebersihkan rumah. Aku berfikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk menceritakan pada ibu apa yang terjadi. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas menemui ibu, sedikit berlari dengan membawa Koran yang tadi pagi ku beli.

Ibu sudah siap menyodorkan sapu ijuk yang ada ditangannya, dan aku segera mengambil sapu dari tangan ibu. Ibu melihat apa yang aku pegang, dan segera menanayakannya padaku “Koran apa itu fis? Tumben pagi2 sudah baca Koran kaya pejabat penting” dengan wajah penuh selidik ibu menanyakan itu padaku. Aku hanya menyodorkan Koran yang ada ditanganku ke tangan ibu “ini bu, pengumuman kelulusan SPMB”. Dengan wajah penuh curiga, ibu menanyakan hal lain padaku, seperti seorang detektif yang ingin mengetahui segala sesuatu dari kliennya. “memangnya kamu ikut SPMB?”sambil membaca Koran yang baru saja diterimanya, ibu mencari namaku, dan tentu saja ibu menemukan namaku disitu. Tertulis dengan jelas. “ini ada namamu” wajahnya terlihat kaget membaca namaku tertulis dikoran. Kita berdiri, saling berhadapan. Tidak ada kejadian yang merubah posisi kita semenjak ibu menyerahkan sapu ijuk, dan aku menyerahkan Koran yang aku pegang. Seperti sebuah transaksi saja.

Ibu mencari kursi terdekat dengannya, dan segera duduk disitu, dan aku hanya terdiam, tertunduk, mencerna apa yang ibu tanyakan. Belum ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Hening, suasana terasa lebih dingin dari biasanya. Langit yang terlihat cerah biru cemerlang, mendadak seperti kelabu pucat. “kenapa diam? ibu kan Tanya” dengan wajah yang penuh selidik, dan mata masih tertuju pada Koran yang ada dipangkuannya, ibu menanykan padaku untuk yang kedua kalinya. Aku masih tertunduk, dengan sapu yang kupegang semakin erat. Rasanya tenggorokan ini amat kering, sehingga mengucapkan satu kalimat pun terasa sulit.” Iya bu, maaf, aku belum cerita sama ibu, kalo aku ikut SPMB.” Dengan nada memelas, dan tangan yang semakin erat memegang sapu, akhirnya kata2 itu keluar juga. Belum sempat ibu menimpali jawabanku, buru-buru membela diri “tapi aku ikut beasiswa bu, jadi kalaupun aku lulus SPMB, ibu nggak usah cemas dengan biaya kuliah dan sebagainya.”mengingat kondisi keluargaku yang pas-pasan dalam hal perekonomian, beasiswa adalah jalan terbaik untuk tangga menuju impianku.

Ternyata ibu tidak berucap sedikitpun, reaksi ibu sungguh diluar dugaanku. Ibu terdiam, tangannya perlahan melepaskan Koran yang dari tadi digenggamnnya. Matanya terlihat bekaca-kaca. Melihat itu semua, aku langsung menghampiri ibu, dan merangkul lutut ibu, aku duduk, sambil menatap ibu, pelukanku begitu erat. Ibu membelai kepalaku, air mata yang tadi hanya tergenang dipelupuk, sekarang berjatuhan mengenai kedu pipinya. Pipi yang selalu terlihat putih bersih, sekarang basah oleh air mata, dan ini adalah kali pertamaku melihat ibu menangis.

“maafin ibu fissa, jika ibu selama ini membuatmu merasa tertekan, dengan keputusan-keputusan ibu. Dengan semua hal yang ibu larang, dan ibu perbolehkan selama ini.” Ibu terus mengusap-usap kepalaku, dengan air mata yang masih menetes. Aku tidak bisa berkata-kata, selain menyadari betapa ibu mencintaiku, “oh ibu, akan kuberikan yang terbaik dalam hidupku untukmu” jeritku dalam hati. Aku memperbaiki posisi dudukku, dan menggesernya hingga aku berada disamping ibu, aku peluk ibu dengan erat, betapa hangatnya yang kurasa. “ibu mengizinkanmu untuk pergi. Ibu ikhlas untuk semua ini. Jika ini adalah jalan hidup yang kamu inginkan, ibu ikhlas fissa” air matanya semakin terasa, membasahi kedua pipinya. Aku tau ada kesakitan yang ibu rasakan, tapi ibu rela melepaskan, tidak menghiraukan rasa yang ada dihatinya. Ibu rela mengesampingkan semua itu, demi apa yang aku harpakan dalam hidupku. Tidak ada yang bisa aku ucapkan dari mulutku, terasa berat. Aku hanya menikmati keadan ini, menikmati rasa ini, betapa ibu menyayangiku melebihi yang aku tahu. Semua ini diluar dugaanku, diluar prediksiku atas reaksi yang akan ibu berikan padaku. Diluar imajiku saat dikamar, dimana aku membayangkan ibu akan mengatakan tidak untuk ini. Semua diluar keadaan yang aku bayangkan. “ingat pesan ibu fissa, dimanapun kamu berada, jadikanlah ALLAh sebagai tempat kamu bergantung, tentang apapun itu, tidak terkecuali, perliharalah solatmu, dan sikapmu. Tutupi auratmu, sebagimana yang diperintahkan oleh agama. Ibu hanya meminta itu darimu fissa, tidak lebih” dengan terus mengelus kepalaku, air mata itu belum juga berhenti masih terlihat deras. Aku memberanikan diri untuk mengucapkan kata-kata yang sedikit terseret ditenggorokannku. Mendengar ucapan ibu, tangisanku menjadi, seperti balita yang ingin  balon namun tidak diberikan oleh ibunya, bedanya ini adalah tangisan bahagia dariku. “apapun yang telah ibu berikan, yang sedang ibu berikan, dan yang akan ibu berikan atasku, aku ikhlas menerima itu semua. Terimakasih atas kepercayan ibu utnuk pilihan hidupuku bu, akan ku jaga semua itu dengan baik hingga saat aku akan memprtanggung jawabkannya di depan sang Khalik,” pelukanku semakin erat ditubuh ibu, menemani tangisan dan kesaksianku.

Isak tangis kita mewarnai pagi yang cerah dengan sedikit awan yang menghias. Betapa indah atas kehendak yang ALLAH berikan untuk kita. Semua terasa tepat pada waktunya. Ibu,, kasih mu hanya seujung kuku, yang tidak akan pernah habis walapun selalu dipotong. Seperti tiulah kasihmu, aku yang tidak selalu membahagiakanmu, yang bisa memotong kasih sayangmu padaku, namun kasih itu selalu tumbuh dari dalam jiwamu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *